Gamelanadalah ensembel musik yang biasanya menonjolkan metalofon, gambang, gendang, dan gong. Istilah gamelan merujuk pada instrumennya / alatnya, yang mana merupakan satu kesatuan utuh yang diwujudkan dan dibunyikan bersama. Kata Gamelan sendiri berasal dari bahasa Jawa gamel yang berarti memukul / menabuh, diikuti akhiran an yang menjadikannya kata benda. FAKULTASBAHASA DAN SENI UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG 2017 . ii PERSETUJUAN PEMBIMBING sederhana, alur niki mboten serumit alur ing cerita Mahabarata versi pewayangan. Adhedasar uraian ing dhuwur, saran ingkang saged diwenehi panaliten kanggo wayang gombal ing majalah Jaya Baya menika, saget didadikake alat bantu KumpulanCerita Wayang dalam Bahasa Indonesia serta Bahasa Jawa Tokoh Wayang Artikel Wayang Lakon Wayang. Paraga Pétruk iki ora disebutaké ing Kitab Mahabarata dadi anané mung ing gubahan gagrag pewayangan Jawa. Pusaka utawa gamane Janaka yaiku Panah Pasoepati. CeritaWayang Mahabarata Versi Jawa, Gatotkaca Lahir Pada tahun 1000 Masehi, pada jaman pemerintahan Darmawangsa, epos Mahabarata ini Bahasa Sunda, Bahasa Inggris, Lakon Wayang, Mp3 Wayang, Video Wayang, Mahabarata, Ramayana Kumpulan Cerita Wayang Kaloron agama iki gedhe pengaruhe tumrap perkembangane wayang kanthi nganggo cerita Cerita: Babad, lakon pakem dan carangan, yaitu percampuran antara ephos Ramayana/ Mahabarata versi Indonesia dengan cerita Arab atau Islam, dimana pahlawan-pahlawan yang diceritakan dalam wayang/babad dianggap juga sebagai nenek moyangnya sendiri. Bahasa : bahasa Indonesia, Jawa, Sunda, bahkan bahasa Inggris/ Asing. 7. Kepustakaan Periode Dalampertunjukan wayang Golek, lakon yang diangkat banyak berasal dari cerita di kitab Mahabarata dan Ramayana yang berasal dari India. Namun ada juga tokoh yang asli berasal dari Indonesia yang tidak dapat ditemukan dalam kitab Mahabarata dan Ramayana versi India yaitu tokoh Anterja, Jakatawang dan Wisanggeni yang ada dalam Wayang Golek Sunda. Indonesia Ringkasan Cerita Mahabarata Kisah Mahabharata diawali denga - Sunda: Ringkesan Carita Mahabarata Carita Mahabarata dimimitian ku 5 Yang menjadi ciri khas pengaruh Islam dalam pewayangan adalah diajarkannya egaliterialisme yaitu kesamaan derajat manusia di hadapan Allah dengan dimasukannya tokoh-tokoh punakawan seperti Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong. Semar (Sang Hyang Ismaya) dalam cerita mahabarata versi Indo merupakan kakak dari dewa Syiwa. KsatriaPandawa Lima Mahabarata versi Jawa setengah hati. WAYANG PANDAWA sen1budaya blogspot com. Pandawa Lima Bahasa Sunda Kumpulan Cerita Wayang. Pandawa Lima Tokoh Pewayangan Mahabharata KASKUS. Gambar Gambar April 21st, 2018 - Pandawa Lima merupakan tokoh yang tak terpisahkan dalam cerita Mahabarata Lima bersaudara yang terdiri dari Kunjungisitus Voice of text, lalu masukan saja kata-kata lucu dan unik dalam kolom yang disediakan. Jika sudah menuliskan kata-kata, maka ubah jenis suara menjadi Javanese, Sunda, atau Madura sesuai dengan kemauan. Dengan begini, maka kata-kata yang disampaikan akan memiliki nada bahasa daerah. AL1d. - Kitab Mahabharata adalah salah satu karya besar dari India yang dianggap suci dan paling istimewa bagi pemeluk agama Hindu. Isinya menceritakan tentang perang antara Pandawa dan Kurawa dalam memperebutkan takhta Hastinapura. Kitab Mahabharata disusun oleh Vyasa Krisna Dwipayana di India pada sekitar 400 yang semula ditulis dalam bahasa Sanskerta ini kemudian disalin dalam berbagai bahasa. Di Indonesia, salinan dari berbagai bagian Kitab Mahabharata telah digubah dalam bentuk kakawin berbahasa Jawa Kuno oleh para pujangga ternama sejak akhir abad ke-10. Kitab Mahabharata juga diakui sebagai salah satu wiracarita terpanjang di dunia yang memiliki lebih dari sloka dengan sekitar 1,8 juta kata. Panjangnya ini diperkirakan empat kali lebih panjang daripada Kitab Ramayana. Baca juga Kitab Ramayana Penulis, Isi, dan Kisahnya Pembagian dan isi Kitab Mahabharata Mahabharata merupakan kisah epik yang terbagi ke dalam 18 bagian yang disebut belas parwa ini dikenal dengan sebutan Astadasaparwa asta=8, dasa=10, parwa=kitab. Rangkaian parwa ini menceritakan kronologi peristiwa dalam kisah Mahabharata, yaitu sejak kisah para leluhur Pandawa dan Kurawa, hingga diterimanya Pandawa di surga. Adapun pembagian dan isi Kitab Mahabharata adalah sebagai berikut. Adiparwa Bagian ini mengisahkan tentang silsilah serta masa kanak-kanak Pandawa dan Kurawa. Karena keculasan dan watak buruk Kurawa, kedua belah pihak menjadi sering berselisih paham sejak kecil. Sabhaparwa Kitab Sabhaparwa berisi kisah tentang usaha Kurawa untuk membinasakan Pandawa. Karena kalah dalam permainan dadu, Pandawa harus menjalani hukuman dengan hidup dalam pembuangan di tengah hutan selama 12 tahun. Wanaparwa Wanaparwa menceritakan tentang suka duka Pandawa ketika 12 tahun hidup dalam pembuangan di tengah hutan. Wirataparwa Kitab Wirataparwa menceritakan tentang penyamaran Pandawa selama satu tahun di Keraton Wirata setelah selesai menjalani pengasingan di hutan. Baca juga Kitab Sutasoma Pengarang, Isi, dan Bhinneka Tunggal Ika Udyogaparwa Bagian ini menceritakan tentang kembalinya Pandawa ke Indraprastha setelah menjalani masa pembuangan. Ternyata, Kurawa tidak mau mengembalikan separuh bagian Kerajaan Hastinapura kepada Pandawa. Kedua belah pihak siap berperang di Kuruksetra setelah upaya damai yang diusulkan oleh Kresna gagal. Bhismaparwa Bhismaparwa berisi tentang kisah Bhisma yang menjadi panglima perang Kurawa, sedangkan Kresna sebagai penasihat dan pengatur siasat perang bagi Pandawa. Bagian ini juga menceritakan tentang keberhasilan Srikandi dan Arjuna dalam mengalahkan Bhisma. Dronaparwa Kitab Dronaparwa menceritakan kisah pengangkatan Bagawan Drona sebagai panglima perang Kurawa. Drona gugur di medan perang karena dipenggal oleh Drestayumna ketika sedang tertunduk lemas tatkala mendengar kabar kematian anaknya, Aswatama. Kitab ini juga menceritakan tentang gugurnya Abimanyu dan Gatotkaca. Karnaparwa Karnaparwa bercerita tentang pengangkatan Karna sebagai panglima perang oleh kitab ini juga diceritakan ketika Dursasana gugur dan kematian Karna di tangan Arjuna dengan senjata Pasupati pada hari ke-17. Baca juga Kitab Negarakertagama Sejarah, Isi, dan Maknanya Salyaparwa Kitab ini berisi kisah penyesalan Duryudhana atas perbuatannya dan hendak menghentikan pertikaian dengan para Pandawa. Hal itu lantas menjadi ejekan para Pandawa sehingga Duryudhana terpancing untuk berkelahi dengan Bhima. Dalam perkelahian ini, Duryudhana akhirnya gugur. Sauptikaparwa Sauptikaparwa bercerita tentang pembalasan dendam Aswatama kepada tentara Pandawa. Peristiwa yang menggugurkan banyak tentara Pandawa ini membuat Aswatama menyesal dan memilih untuk menjadi pertapa. Striparwa Bagian ini mengisahkan tentang ratapan kaum wanita yang ditinggal oleh suami mereka bertempur di medan perang. Selain itu, Yudhistira diceritakan menyelenggarakan upacara pembakaran jenazah bagi mereka yang gugur dan mempersembahkan air suci kepada leluhur. Santiparwa Dalam Santiparwa diceritakan pertikaian batin Yudhistira karena telah membunuh saudara-saudaranya di medan perang. Akhirnya, ia diberi wejangan suci oleh Rsi Byasa dan Sri Kresna, yang menjelaskan rahasia serta tujuan ajaran Hindu agar Yudhistira dapat melaksanakan kewajibannya sebagai raja. Anusasanaparwa Anusasanaparwa berisi kisah penyerahan diri Yudhistira kepada Rsi Bhisma untuk menerima ajarannya. Bhisma mengajarkan tentang ajaran Dharma, Artha, aturan tentang berbagai upacara, kewajiban seorang raja, dan masih banyak lainnya. Baca juga Wujud Akulturasi Budaya Lokal dengan Hindu-Buddha Aswamedhikaparwa Aswamedhikaparwa berisi kisah pelaksanaan upacara Aswamedha oleh Raja Yudhistira. Selain itu, bagian ini juga menceritakan tentang pertempuran Arjuna dengan para raja di dunia, kisah kelahiran Parikesit yang semula meninggal dalam kandungan karena senjata sakti Aswatama, tetapi dihidupkan kembali oleh Sri Kresna. Asramawasikaparwa Berisi kisah kepergian Drestarastra, Gandari, Kunti, Widura, dan Sanjaya ke tengah hutan untuk meninggalkan dunia ramai. Mereka juga menyerahkan takhta sepenuhnya kepada Yudhistira. Mosalaparwa Mosalaparwa menceritakan kisah Pandawa dan Drupadi yang menempuh hidup "sanyasin" atau mengasingkan diri dan meninggalkan dunia fana. Prasthanikaparwa Kitab ini menceritakan kisah perjalanan Pandawa dan Drupadi ke puncak Gunung Himalaya, sementara takhta kerajaan diserahkan kepada Parikesit, cucu Arjuna. Dalam pengembaraannya, Drupadi dan Pandawa kecuali Yudhistira meninggal. Swargarohanaparwa Swargarohanaparwa menceritakan tentang kisah Yudhistira yang berhasil mencapai puncak Gunung Himalaya dan dijemput untuk mencapai surga oleh Dewa Indra. Dalam perjalanannya, ia ditemani oleh seekor anjing yang sangat setia dan menolak masuk surga jika disuruh meninggalkan binatang itu. Anjing tersebut kemudian menampakkan wujudnya yang sebenarnya, yaitu Dewa Dharma. Referensi Wismulyani, Endar. 2018. Kitab-Kitab dari Abad Silam. Klaten Cempaka Putih. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Mari bergabung di Grup Telegram " News Update", caranya klik link kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel. Pandawa jeung Kurawa Prabu Pandu Dewanata téh hiji raja ti karajaan Astina. Anjeuna boga putra lima sadulur anu baris katelah Pandawa Lima, anu dilahirkeun ti dua istrina nya eta Déwi Kunti jeung Déwi Madrim. Éta Pandawa Lima ti nu panggedéna nepi ka pangleutikna téh nya éta; Yudistira, Bima, Arjuna, Nakula jeung Sadéwa. Yudistira boga ngaran kanyaah atawa ngaran leutikna nya éta Puntadewa, Bima ngaran leutikna nya éta Séna, Arjuna ngaran leutikna téh Permadi, dilahirkeun ti ibu Déwi Kunti. Sedeng Nakula nu boga ngaran leutik Punten, jeung Sadéwa nu boga ngaran leutikna Tangsen dilahirkeun ti ibu Déwi Madrim. Hanjakal Pandu Déwanata tilar keur ngora kénéh, sarta barudakna masih laleutik. Alatan barudakna tacan bisa nyarekel kadali pamaréntahan pikeun ngaheuyeuk dayeuh ngolah nagara karajaan Astinapura, korsi pamaréntahan pikeun saheulaan dipasrahkeun ka Déstarata salaku lanceuk Pandu Déwanata. Jaga lamun palaputra Pandawa Lima geus sawawa, mangka Astinapura baris dipasrahkeun ka aranjeuna salaku pawaris hak tahta anu sah. Déstarata téh pisikna teu sampurna, dua panonna teu ningali alias lolong. Salian ti éta, pamadeganana kurang kuat, gampang robah, gampang dihasut tur gampang diolo ku barudakna anu jumlahna saratus, katelah palaputra Kurawa. Ampir sakum palaputra Kurawa miboga watek goréng kayaning, hasud, sirik-pidik, sarakah, tukang bohong, tukang fitnah, jeung lian-lianna. Rencana pamasrahan tahta Astinapura ka palaputra Pandawa putra Pandu kahalang ku Déwi Gandari salaku pamajikan Déstarata jeung salaku indung palaputra Kurawa. Déwi Gandari satekah polah lumaku kumaha carana sangkan tahta Astinapura téh jaga teu ragrag ka palaputra Pandawa salaku pawaris sah, tapi ragrag ka pihak Kurawa salaku palaputra manéhna. Ambisi Déwi Gandari dirojong ku adina nu ngaranna Harya Suman nu katelahna Patih Sangkuni, hiji patih di karajaan Astinapura. Patih Sangkuni boga pikiran yén sangkan tahta Astinapura bisa dicekel ku pihak Kurawa, mangka Pandawa Lima kudu disingkirkeun ti Karajan Astinapura. Ti baheulana, Pandawa Lima sok leuwih punjul ti batan Kurawa. Boh tina kaparigelan maénkeun pakarang, kapunjulan kapribadian, tur élmu pangaweruh boh kabatinan atawa kanagaraan. Hal ieu ngalatarankeun mumusuhan di antara maranéhna leuwih ngebebela. Puntadéwa atawa Yudistira unggul dina widang sastra jeung kanagaraan, Bima punjul dina widang maénkeun gada, Arjuna punjul dina widang manah jeung élmu perang, sedeng Nakula-Sadéwa sanajan can sawawa punjul dina prilaku jeung kapribadian. Bima nu dedeg pangadegna jangkung badag tur bedas tanagana, mindeng kelibet masalah jeung pihak Kurawa. Duryudhana jeung adina Dursasana ti pihak Kurawa pernah digampleng ku Bima alatan maranéhna nyieun gara-gara ka pihak Pandawa. Sok sanajan digulung dirempug dikoroyok ku duaan, tapi dina éta tarung téh angger Bima nu unggul. Ti harita Bima sok jadi sasaran kaceuceub-kageuleuh pihak Kurawa. Hiji waktu, Bima nu pohara rampus daharna dibéré racun ku Kurawa dina kadaharannana. Sanggeus Bima kapiuhan, awakna tuluy dipiceun ka sumur Jalatunda anu eusina pinuh ku mangpirang oray nu matih peurahna. Ngan ku pitulungna Batara Dadungnala, Bima salamet tina bahaya pati. Malah, ti saprak harita Bima jadi kebal ku mangpirang baruang racun nu sakumaha matihna gé. Sadar usahana nyingkahkeun Bima téh gagal, pihak Kurawa nyieun deui tarekah nyingkahkeun pihak Pandawa ku jalan ngaduruk balé Sigala-gala tempat sararé Pandawa sarta Ibu Déwi Kunti. Ngan éta tarekah gé gagal deui alatan Pandawa ditulungan ku Batara Naradha, Sang Hyang Antaboga, jeung Yama Widura. Sangkan pacogrégan antara Kurawa jeung Pandawa teu terus lumangsung, para kokolot nu diluluguan ku Resi Bisma jeung Yama Widura méré tarekah ka Déstrarata sangkan Pandawa Lima dibéré leuweung geledegan nu katelah Wanamarta Wana = Leuweung, Amarta = Ngaran éta leuweung. Éta bongbolongan téh disapukan atawa disatujuan ku Déstrarata, nya antukna Wanamarta dipasrahkeun ka Pandawa. Alatan palaputra Pandawa mah punjul pisan dina sagala widang –kaasup widang Tata Nagara-, tur dibantuan ogé ku sawatara Déwa jeung sobat-sobat Pandawa, dina waktu nu singget maranéhna bisa ngarobah Wanamarta nu asalna leuweung geledegan jadi hiji nagara atawa karajaan kalawan dibéré ngaran karajaan Amarta, tur boga puseur dayeuh atawa ibukota nu dibéré ngaran Indraprasta. Beuki lila Amarta beuki maju. Karajaanna beuki gedé jeung kuat, sabab loba karajaan-karajaan leutik nu garabung ka Amarta. Hal ieu ngabalukarkeun rasa ceuceub Kurawa ka Pandawa beuki mahabu. Antukna, pacogrégan dua pihak nu beuki gedé jaga di carita satuluyna bakal bubuara jadi perang rongkah antara Pandawa Lima jeung Kurawa, katelah Perang Bharatayuda di padang Kurusétra. Tekad Pangestu, tina sawatara sumber Indonesia Mahabarata adalah sebuah karya sastra kuno yang konon ditulis oleh Bhagawan Byasa atau Wyasa dari India. Buku ini terdiri dari delapan belas kitab, maka dinamakan Astadasaparwa. Namun, ada pula yang meyakini bahwa kisah ini sesungguhnya merupakan kumpulan dari banyak cerita yang semula terpencar-pencar, yang dikumpulkan semenjak abad ke-4 sebelum Masehi. Secara singkat, Mahabharata menceritakan kisah konflik para Pandawa lima dengan saudara sepupu mereka, seratus orang Korawa, mengenai sengketa hak pemerintahan kerajaan Kuru, dengan pusat pemerintahan di Hastinapura. Puncaknya adalah perang Bharatayuddha di Kurukshetra dan pertempuran tersebut berlangsung selama delapan belas hari. Ringkasan Cerita Mahabarata Kisah Mahabharata diawali dengan pertemuan Raja Duswanta dengan Sakuntala. Raja Duswanta adalah seorang raja besar dari Chandrawangsa keturunan Yayati, menikahi Sakuntala dari pertapaan Bagawan Kanwa, kemudian menurunkan Sang Bharata. Sang Bharata menurunkan Sang Hasti, yang kemudian mendirikan sebuah pusat pemerintahan bernama Hastinapura. Sang Hasti menurunkan Para Raja Hastinapura. Dari keluarga tersebut, lahirlah Sang Kuru, yang menguasai dan menyucikan sebuah daerah luas yang disebut Kurukshetra. Sang Kuru menurunkan Dinasti Kuru atau Wangsa Kaurawa. Dalam Dinasti tersebut, lahirlah Pratipa, yang menjadi ayah Prabu Santanu, leluhur Pandawa dan Kurawa Baca Juga Berdirinya Negara Hastina Gatotkaca Kembar Perkawinan Yudhisthira dengan Drupadi Prabu Santanu adalah seorang raja mahsyur dari garis keturunan Sang Kuru, berasal dari Hastinapura. Ia menikah dengan Dewi Gangga yang dikutuk agar turun ke dunia, namun Dewi Gangga meninggalkannya karena Sang Prabu melanggar janji pernikahan. Hubungan Sang Prabu dengan Dewi Gangga sempat membuahkan 7 anak, akan tetapi semua ditenggelamkan ke laut Gangga oleh Dewi Gangga dengan alasan semua sudah terkena kutukan. Akan tetapi kemudian anak ke 8 bisa diselamatkan oleh Prabu Santanu yang diberi nama Dewabrata. Kemudian Dewi Ganggapun pergi meninggalkan Prabu Santanu. Nama Dewabrata diganti menjadi Bisma karena ia melakukan bhishan pratigya yaitu sumpah untuk membujang selamanya dan tidak akan mewarisi tahta ayahnya. Hal itu dikarenakan Bisma tidak ingin dia dan keturunannya berselisih dengan keturunan Satyawati, ibu tirinya. Setelah ditinggal Dewi Gangga, akhirnya Prabu Santanu menjadi duda. Beberapa tahun kemudian, Prabu Santanu melanjutkan kehidupan berumah tangga dengan menikahi Dewi Satyawati, puteri nelayan. Dari hubungannya, Sang Prabu berputera Sang Citranggada dan Wicitrawirya. Demi kebahagiaan adik-adiknya, Bisma pergi ke Kerajaan Kasi dan memenangkan sayembara sehingga berhasil membawa pulang tiga orang puteri bernama Amba, Ambika, dan Ambalika, untuk dinikahkan kepada adik-adiknya. Karena Citranggada wafat, maka Ambika dan Ambalika menikah dengan Wicitrawirya, sedangkan Amba mencintai Bisma namun Bisma menolak cintanya karena terikat oleh sumpah bahwa ia tidak akan kawin seumur hidup. Demi usaha untuk menjauhkan Amba dari dirinya, tanpa sengaja ia menembakkan panah menembus dada Amba. Atas kematian itu, Bisma diberitahu bahwa kelak Amba bereinkarnasi menjadi seorang pangeran yang memiliki sifat kewanitaan, yaitu putera Raja Drupada yang bernama Srikandi. Kalau versi Jawa, Srikandi adalah seorang wanita sejati Kelak kematiannya juga berada di tangan Srikandi yang membantu Arjuna dalam pertempuran akbar di Kurukshetra. Citranggada wafat di usia muda dalam suatu pertempuran, kemudian ia digantikan oleh adiknya yaitu Wicitrawirya. Wicitrawirya juga wafat di usia muda dan belum sempat memiliki keturunan. Satyawati mengirim kedua istri Wicitrawirya, yaitu Ambika dan Ambalika untuk menemui Resi Byasa, sebab Sang Resi dipanggil untuk mengadakan suatu upacara bagi mereka agar memperoleh keturunan. Satyawati menyuruh Ambika agar menemui Resi Byasa di ruang upacara. Setelah Ambika memasuki ruangan upacara, ia melihat wajah Sang Resi sangat dahsyat dengan mata yang menyala-nyala. Hal itu membuatnya menutup mata. Karena Ambika menutup mata selama upacara berlangsung, maka anaknya terlahir buta. Anak tersebut adalah Drestarastra. Kemudian Ambalika disuruh oleh Satyawati untuk mengunjungi Byasa ke dalam sebuah kamar sendirian, dan di sana ia akan diberi anugerah. Ia juga disuruh agar terus membuka matanya supaya jangan melahirkan putra yang buta Drestarastra seperti yang telah dilakukan Ambika Maka dari itu, Ambalika terus membuka matanya namun ia menjadi pucat setelah melihat rupa Sang Bagawan Byasa yang luar biasa. Maka dari itu, Pandu putranya, ayah para Pandawa, terlahir pucat. Drestarastra dan Pandu mempunyai saudara tiri yang bernama Widura. Widura merupakan anak dari Resi Byasa dengan seorang dayang Satyawati yang bernama Datri. Pada saat upacara dilangsungkan dia lari keluar kamar dan akhirnya terjatuh sehingga Widura pun lahir dengan kondisi pincang kakinya. Dikarenakan Drestarastra terlahir buta maka tahta Hastinapura diberikan kepada Pandu. Pandu menikahi Dewi Kunti,kemudian Pandu menikah untuk yang kedua kalinya dengan Dewi Madrim, namun akibat kesalahan Pandu pada saat memanah seekor kijang yang sedang kasmaran, maka kijang tersebut mengeluarkan kutukan bahwa Pandu tidak akan merasakan lagi hubungan suami istri, dan bila dilakukannya, maka Pandu akan mengalami ajal. Kijang tersebut kemudian mati dengan berubah menjadi wujud aslinya yaitu seorang pendeta. Kemudian karena mengalami kejadian buruk seperti itu, Pandu lalu mengajak kedua istrinya untuk bermohon kepada Hyang Maha Kuasa agar dapat diberikan anak. Atas bantuan mantra yang pernah diberikan oleh Resi Druwasa maka Dewi Kunti bisa memanggil para dewa untuk kemudian mendapatkan putra. Pertama kali mencoba mantra tersebut datanglah Batara Surya, tak lama kemudian Kunti mengandung dan melahirkan seorang anak yang kemudian diberi nama Karna. Tetapi Karna kemudian dilarung kelaut dan dirawat oleh Kurawa, sehingga nanti pada saat perang Bharatayudha, Karna memihak kepada Kurawa. Kemudian atas permintaan Pandu, Kunti mencoba mantra itu lagi, Batara Guru mengirimkan Batara Dharma untuk membuahi Dewi Kunti sehingga lahir anak yang pertama yaitu Yudistira, setahun kemudian Batara Bayu dikirim juga untuk membuahi Dewi Kunti sehingga lahirlah Bima, Batara Guru juga mengutus Batara Indra untuk membuahi Dewi Kunti sehingga lahirlah Arjuna dan yang terakhir Batara Aswan dan Aswin dikirimkan untuk membuahi Dewi Madrim, dan lahirlah Nakula dan Sadewa. Kelima putera Pandu tersebut dikenal sebagai Pandawa. Dretarastra yang buta menikahi Dewi Gendari, dan memiliki sembilan puluh sembilan orang putera dan seorang puteri yang dikenal dengan istilah Kurawa. Pandawa dan Kurawa merupakan dua kelompok dengan sifat yang berbeda namun berasal dari leluhur yang sama, yakni Kuru dan Bharata. Kurawa khususnya Duryudana bersifat licik dan selalu iri hati dengan kelebihan Pandawa, sedangkan Pandawa bersifat tenang dan selalu bersabar ketika ditindas oleh sepupu mereka. Ayah para Kurawa, yaitu Drestarastra, sangat menyayangi putera-puteranya. Hal itu membuat ia sering dihasut oleh iparnya yaitu Sengkuni, beserta putera kesayangannya yaitu Duryudana, agar mau mengizinkannya melakukan rencana jahat menyingkirkan para Pandawa Pada suatu ketika, Duryudana mengundang Kunti dan para Pandawa untuk liburan. Di sana mereka menginap di sebuah rumah yang sudah disediakan oleh Duryudana. Pada malam hari, rumah itu dibakar. Namun para Pandawa bisa diselamatkan oleh Bima yang telah diberitahu oleh Widura akan kelicikan Kurawa sehingga mereka tidak terbakar hidup-hidup dalam rumah tersebut. Usai menyelamatkan diri, Pandawa dan Kunti masuk hutan. diceritakan dalam lakon Bale Sigala-gala Di hutan tersebut Bima bertemu dengan raksasa bernama Arimba yang ingin membalas dendam kematian Ayahnya yaitu Arimbaka dalam pedalangan Jawa disebut Trembaka, Bima unggul dan membunuhnya, lalu menikahi adiknya, yaitu raseksi Hidimbi atau Arimbi yang jatuh hati pada Bima. Dari pernikahan tersebut, lahirlah Gatotkaca. Setelah melewati hutan rimba, Pandawa melewati Kerajaan Pancala. Di sana tersiar kabar bahwa Raja Drupada menyelenggarakan sayembara memperebutkan Dewi Drupadi. Adipati Karna mengikuti sayembara tersebut, tetapi ditolak oleh Drupadi. Pandawa pun turut serta menghadiri sayembara itu, namun mereka berpakaian seperti kaum brahmana. Pandawa ikut sayembara untuk memenangkan lima macam sayembara, Yudistira untuk memenangkan sayembara filsafat dan tatanegara, Arjuna memenangkan sayembara senjata Panah, Bima memenangkan sayembara Gada dan Nakula Sadewa memenangkan sayembara senjata Pedang. Pandawa berhasil melakukannya dengan baik untuk memenangkan sayembara. Drupadi harus menerima Pandawa sebagai suami-suaminya karena sesuai janjinya siapa yang dapat memenangkan sayembara yang dibuatnya itu akan jadi suaminya walau menyimpang dari keinginannya yaitu sebenarnya yang diinginkan hanya seorang Satriya Setelah itu perkelahian terjadi karena para hadirin menggerutu sebab kaum brahmana tidak selayaknya mengikuti sayembara. Pandawa berkelahi kemudian meloloskan diri. sesampainya di rumah, mereka berkata kepada ibunya bahwa mereka datang membawa hasil meminta-minta. Ibu mereka pun menyuruh agar hasil tersebut dibagi rata untuk seluruh saudaranya. Namun, betapa terkejutnya ia saat melihat bahwa anak-anaknya tidak hanya membawa hasil meminta-minta, namun juga seorang wanita. Dalam Pedalangan Jawa Drupadi hanya menjadi istri Yudistira / Puntadewa seorang. Agar tidak terjadi pertempuran sengit, Kerajaan Kuru dibagi dua untuk dibagi kepada Pandawa dan Kurawa. Kurawa memerintah Kerajaan Kuru induk pusat dengan ibukota Hastinapura, sementara Pandawa memerintah Kerajaan Kurujanggala dengan ibukota Indraprastha. Baik Hastinapura maupun Indraprastha memiliki istana megah, dan di sanalah Duryudana tercebur ke dalam kolam yang ia kira sebagai lantai, sehingga dirinya menjadi bahan ejekan bagi Drupadi. Hal tersebut membuatnya bertambah marah kepada para Pandawa Untuk merebut kekayaan dan kerajaan Yudistira, Duryudana mengundang Yudistira untuk main dadu, ini atas ide dari Arya Sengkuni. Pada saat permainan dadu, Duryudana diwakili oleh Sengkuni sebagai bandar dadu yang memiliki kesaktian untuk berbuat curang. Permulaan permainan taruhan senjata perang, taruhan pemainan terus meningkat menjadi taruhan harta kerajaan, selanjutnya prajurit dipertaruhkan, dan sampai pada puncak permainan Kerajaan menjadi taruhan, Pandawa kalah habislah semua harta dan kerajaan Pandawa termasuk saudara juga dipertaruhkan dan yang terakhir istrinya Drupadi dijadikan taruhan. Akhirnya Yudistira kalah dan Drupadi diminta untuk hadir di arena judi karena sudah menjadi milik Duryudana. Duryudana mengutus para pengawalnya untuk menjemput Drupadi, namun Drupadi menolak. Setelah gagal, Duryudana menyuruh Dursasana adiknya, untuk menjemput Drupadi. Drupadi yang menolak untuk datang, diseret oleh Dursasana yang tidak memiliki rasa kemanusiaan. Rambutnya ditarik sampai ke arena judi, tempat suami dan para iparnya berkumpul. Karena sudah kalah, Yudistira dan seluruh adiknya diminta untuk menanggalkan bajunya, namun Drupadi menolak. Dursasana yang berwatak kasar, menarik kain yang dipakai Drupadi, namun kain tersebut terulur-ulur terus dan tak habis-habis karena mendapat kekuatan gaib dari Sri Kresna yang melihat Dropadi dalam bahaya. Pertolongan Sri Kresna disebabkan karena perbuatan Dropadi yang membalut luka Sri Kresna pada saat upacara Rajasuya di Indraprastha. Drupadi yang merasa malu dan tersinggung oleh sikap Dursasana bersumpah tidak akan menggelung rambutnya sebelum dikramasi dengan darah Dursasana. Bima pun bersumpah akan membunuh Dursasana dan meminum darahnya kelak. Setelah mengucapkan sumpah tersebut, Drestarastra merasa bahwa malapetaka akan menimpa keturunannya, maka ia mengembalikan segala harta Yudistira yang dijadikan taruhan. Duryudana yang merasa kecewa karena Drestarastra telah mengembalikan semua harta yang sebenarnya akan menjadi miliknya, menyelenggarakan permainan dadu untuk yang kedua kalinya. Kali ini, siapa yang kalah harus mengasingkan diri ke hutan selama 12 tahun, setelah itu hidup dalam masa penyamaran selama setahun, dan setelah itu berhak kembali lagi ke kerajaannya. Untuk yang kedua kalinya, Yudistira mengikuti permainan tersebut dan sekali lagi ia kalah. Karena kekalahan tersebut, Pandawa terpaksa meninggalkan kerajaan mereka selama 12 tahun dan hidup dalam masa penyamaran selama setahun. Setelah masa pengasingan habis dan sesuai dengan perjanjian yang sah, Pandawa berhak untuk mengambil alih kembali kerajaan yang dipimpin Duryudana. Namun Duryudana bersifat jahat. Ia tidak mau menyerahkan kerajaan kepada Pandawa, walau seluas ujung jarum pun. Hal itu membuat kesabaran Pandawa habis. Misi damai dilakukan oleh Sri Kresna, namun berkali-kali gagal. Akhirnya, pertempuran tidak dapat dielakkan lagi Pandawa berusaha mencari sekutu dan ia mendapat bantuan pasukan dari Kerajaan Kekaya, Kerajaan Matsya, Kerajaan Pandya, Kerajaan Chola, Kerajaan Kerala, Kerajaan Magadha, Wangsa Yadawa, Kerajaan Dwaraka, dan masih banyak lagi. Selain itu para ksatria besar di Bharatawarsha seperti misalnya Drupada, Setyaki, Drestadjumna, Srikandi, dan lain-lain ikut memihak Pandawa. Sementara itu Duryudana meminta Bisma untuk memimpin pasukan Kurawa sekaligus mengangkatnya sebagai panglima tertinggi pasukan Kurawa. Kurawa dibantu oleh Resi Dorna dan putranya Aswatama, kakak ipar para Kurawa yaitu Jayadrata, serta guru Krepa, Kertawarma, Salya, Sudaksina, Burisrawa, Bahlika, Sengkuni, Karna, dan masih banyak lagi. Bharatayuda Pertempuran berlangsung selama 18 hari penuh. Dalam pertempuran itu, banyak ksatria yang gugur, seperti misalnya Abimanyu, Durna, Karna, Bisma, Gatotkaca, Irawan, Prabu Matswapati dan puteranya Raden Seta, Raden Utara, Raden Wratsangka, Bhogadatta, Sengkuni, dan masih banyak lagi. Selama 18 hari tersebut dipenuhi oleh pertumpahan darah dan pembantaian yang mengenaskan. Pada akhir hari kedelapan belas, hanya sepuluh ksatria yang bertahan hidup dari pertempuran, mereka adalah Lima Pandawa,Yuyutsu, Setyaki, Aswatama, Krepa dan Kartamarma. Setelah perang berakhir, Yudistira dinobatkan sebagai Raja Hastinapura bergelar Prabu Kalimataya Setelah memerintah selama beberapa lama, ia menyerahkan tahta kepada cucu Arjuna, yaitu Parikesit. Kemudian, Yudistira bersama Pandawa dan Drupadi mendaki gunung Himalaya sebagai tujuan akhir perjalanan mereka. Di sana mereka meninggal dan mencapai surga. Diceritakan dalam kisah Pandawa Seda Parikesit memerintah Kerajaan Kuru dengan adil dan bijaksana. Ia menikahi Madrawati dan memiliki putera bernama Janamejaya. Janamejaya menikahi Wapushtama Bhamustiman dan memiliki putera bernama Satanika. Satanika berputera Aswamedhadatta. Aswamedhadatta dan keturunannya kemudian memimpin Kerajaan Wangsa Kuru di Hastinapura. Sunda Mahabarata mangrupikeun karya sastra kuno anu cenah ditulis ku Bhagawan Byasa atanapi Wyasa ti India. Buku ieu diwangun ku dalapan belas buku, ku sabab kitu disebat Astadasaparwa. Nanging, aya ogé anu percanten yén carita ieu saleresna mangrupikeun kumpulan seueur carita anu tadina sumebar, dikumpulkeun ti abad ka 4 SM. Sakeudeung, Mahabharata nyarioskeun carita konflik antara lima urang Pandawa sareng dulur-dulurna, saratus Koravia, ngeunaan perselisihan hak-hak karajaan Kuru, kalayan pusat pamaréntahan di Hastinapura. Klimaksna nyaéta perang Bharatayuddha di Kurukshetra sareng perang éta lumangsung dalapan belas dinten. Ringkesan Carita Mahabarata Carita Mahabarata dimimitian ku Raja Duswanta pendak sareng Sakuntala. Raja Duswanta mangrupikeun raja hébat ti Chandrawangsa, katurunan Yayati, nikah ka Sakuntala ti padepokan Bagawan Kanwa, teras ngutus Sang Bharata. Sang Bharata ngantunkeun Sang Hasti, anu teras ngadegkeun pusat pamaréntahan anu disebat Hastinapura. Sang Hasti ngutus Raja-raja Hastinapura. Tina kulawarga ieu, lahir Kuru, anu ngawasa sareng nyucikeun daérah ageung anu disebat Kurukshetra. Sang Kuru turun ti Dinasti Kuru atanapi Dinasti dinasti ieu, Pratipa lahir, anu janten ramana Raja Santanu, karuhun Pandawa sareng Kaurawa Baca ogé Ngadegna Nagara Hastina Gatotkaca Kembar Nikah Yudhisthira sareng Drupadi Prabu Santanu mangrupikeun raja anu kawasa ti katurunan Kuru, asalna ti Hastinapura. Anjeunna nikah ka Déwi Ganga, anu dikutuk pikeun turun ka dunya, tapi Déwi Ganga ninggalkeun anjeunna kusabab Sang Prabu ngalanggar janji nikahna. Hubungan antara Sang Prabu sareng Dewi Ganga ngahasilkeun 7 anak, tapi sadayana tilelep dina lautan Ganga ku Dewi Ganga ku alesan yén aranjeunna sadayana dilaknat. Tapi teras anak ka 8 disalametkeun ku Raja Santanu, anu dingaranan Dewabrata. Teras Dewi Ganggapun angkat ti Raja Santanu. Ngaran Dewabrata dirobih janten Bhishma sabab anjeunna ngalakukeun prishna bhishan, sumpah janten selibat salamina sareng henteu pernah nampi tahta bapakna. Éta sabab Bisma henteu hoyong anjeunna sareng turunanana bentrok sareng turunan Satyawati, indung tirina. Saatos Dewi Ganga angkat, Prabu Santanu akhirna janten duda. Sababaraha taun saatosna, Prabu Santanu neraskeun kahirupan nikahna ku nikah ka Déwi Satyawati, putri pamayang. Tina hubungan éta, Raja mangrupikeun putra ti Citranggada sareng kabagjaan duduluranna, Bisma angkat ka Karajaan Kasi sareng meunang sayembara sahingga anjeunna suksés ngantunkeun tilu putri anu namina Amba, Ambika, sareng Ambalika, kanggo dikawinkeun sareng adi-adi na. Kusabab Citranggada maot, Ambika sareng Ambalika nikah ka Wicitrawirya, sedengkeun Amba mikanyaah Bisma tapi Bisma nolak bogoh ka anjeunna kusabab anjeunna kabeungkeut sumpah yén anjeunna moal nikah salami-lami. Dina upaya ngajauhkeun Amba jauh ti anjeunna, anjeunna teu kahaja némbak panah kana dada Amba. Saatos pupusna, Bhishma dicarioskeun yén Amba engkéna bakal dijantenkeun réinkarnasi salaku pangeran anu ngagaduhan ciri awéwé, nyaéta putra Prabu Drupada, namina Srikandi. Dina vérsi basa Jawa, Srikandi mangrupikeun awéwé anu sajati. Engké pupusna ogé bakal aya dina panangan Srikandi anu ngabantosan Arjuna dina perang hébat di Kurukshetra. Citranggada pupus dina yuswa ngora dina perang, teras anjeunna diganti ku lanceukna, Wicitrawirya. Wicitrawirya ogé pupus dina yuswa ngora sareng teu ngagaduhan waktos ngagaduhan murangkalih. Satyawati ngutus dua pamajikan Wicitrawirya, nyaéta Ambika sareng Ambalika kanggo pendak sareng Rishi Byasa, kusabab éta Rishi dipanggil ngayakeun upacara kanggo aranjeunna ngagaduhan turunan. Satyawati nitah Ambika pendak sareng Rishi Byasa di rohangan upacara. Saatos Ambika lebet ka rohangan upacara, anjeunna ningali raheut Sang Rishi pikasieuneun ku soca anu hérang. Éta ngajantenkeun anjeunna nutup Ambika nutup panon nalika upacara, putrana lahir buta. Anakna nyaéta Drestarastra. Teras Ambalika dititah ku Satyawati pikeun nganjang ka Byasa di rohangan nyalira, sareng di sana anjeunna bakal dipasihan hadiah. Anjeunna ogé dititah tetep panonna supados henteu ngalahirkeun putra anu buta di Drestarastra, sapertos naon anu dilakukeun ku Ambika. Ku sabab éta, Ambalika tetep panonna tapi anjeunna semu pucet saatos ningali penampilan luar biasa Bagawan Byasa. Ku alatan éta, Pandu putrana, bapak Pandawa, lahir bulak. Drestarastra sareng Pandu ngagaduhan sadérék satengah namina Widura. Widura nyaéta putra Resi Byasa sareng pembantu Satyawati anu namina Datri. Dina waktos upacara anjeunna lumpat ka luar rohangan sareng akhirna murag ka handap sahingga Widura lahir sareng suku anu lemes. Kusabab Drestarastra lahir buta, tahta Hastinapura dipasihkeun ka Pandu. Pandu nikah ka Déwi Kunti, teras Pandu nikah pikeun kadua kalina sareng Madrim, tapi kusabab kalepatan Pandu nalika némbak kijang ku cinta, kijang ngaluarkeun sumpah yén Pandu moal ngaraos hubungan salaki sareng pamajikan, sareng upami anjeunna ngalakukeun, maka Pandu bakal maot. Sang kijang teras pupus ku robih kana bentuk aslina, nyaéta kusabab ngalaman kajadian anu goréng sapertos kitu, Pandu teras ngundang dua istrina pikeun nyuhungkeun Nu Kawasa kanggo dipasihan murangkalih. Kalayan bantosan mantra anu dipasihkeun ku Resi Druwasa, Déwi Kunti sanggup nimbalan déwa teras kénging putra. Kahiji kalina anjeunna nyobaan mantra sumping Batara Surya, sareng teu lami Kunti hamil sareng ngalahirkeun anak anu teras dipasihan nami Karna. Tapi Karna teras dibawa ka laut sareng diurus ku urang Kurawa, sahingga engké nalika perang Bharatayudha, Karna ngabantosan Kauravia. Teras pamundut Pandu, Kunti nyobian mantra deui, Batara Guru ngutus Batara Dharma pikeun ngabuahan Dewi Kunti sahingga anak anu kahiji lahir, nyaéta Yudistira, sataun saatosna Batara Bayu ogé dikirim pikeun ngabuahan Dewi Kunti sahingga Bima lahir, Batara Guru ogé ngutus Batara Indra pikeun ngabuahan Dewi Kunti sahingga Arjuna lahir sareng akhirna Batara Aswan sareng Aswin dikintun pikeun pupuk Dewi Madrim, sareng Nakula sareng Sadewa lahir. Lima putra Pandu katelah Pandawa. Buta Dretarastra nikah ka Déwi Gendari, sareng ngagaduhan salapan puluh salapan putra sareng saurang putri katelah Kurawa. Pandawa sareng Kurawa mangrupikeun dua kelompok anu ngagaduhan ciri anu béda-béda tapi asalna tina karuhun anu sami, nyaéta Kuru sareng khususna Duryudana licik sareng sok timburu kaunggulan Pandawa, sedengkeun Pandawa tenang sareng teras sabar nalika diganggu ku dulur-dulurna. Bapa urang Kurawa, nyaéta Drestarastra, resep pisan ka putra-putrana. Hal éta ngajantenkeun anjeunna sering dihasut ku lanceukna, Sengkuni, sareng putra karesepna, Duryudana, ngantepkeun anjeunna ngalakukeun rencana jahat pikeun ngaleungitkeun Pandawa. Sakali mangsa, Duryudana ngajak Kunti sareng Pandawa pikeun pakansi. Di dinya aranjeunna cicing di bumi anu parantos disayogikeun ku Duryudana. Peutingna, imahna diduruk. Tapi Pandawa tiasa disalametkeun ku Bima, anu parantos dicarioskeun ku Widura ngeunaan licik Kurawa supados aranjeunna henteu kaduruk hirup-hirup di bumi. Saatos nyalametkeun diri, Pandawa sareng Kunti lebet ka leuweung. dicarioskeun dina lakon Bale Sigala-gala Di leuweung Bima patepung sareng raksasa anu namina Arimba anu badé males ka pupusna bapakna, nyaéta Arimbaka dina pawayangan Jawa disebut Trembaka, Bima unggul sareng maéhan anjeunna, teras nikah ka lanceukna, Raseksi Hidimbi atanapi Arimbi anu bogoh ka Bima. Tina perkawinan ieu, Gatotkaca lahir. Saatos ngalangkungan leuweung leuweung, Pandawa ngaliwat Karajaan Pancala. Di dinya aya berita sumebar yén Raja Drupada ngayakeun pasanggiri memperjuangkeun Déwi Karna miluan pasanggiri, tapi ditolak ku Drupadi. Pandawa ogé ngiringan kontes éta, tapi aranjeunna nganggo baju sapertos brahmana. Pandawa ilubiung dina kompetisi meunang lima rupa kompetisi, Yudistira meunang kompetisi pikeun filsafat sareng katertiban nagara, Arjuna meunang kompetisi senjata Panah, Bima meunang kompetisi Gada sareng Nakula Sadewa meunang kompetisi Pedang. Pandawa hasil pikeun ngalakukeun éta pikeun meunang pasanggiri. Drupadi kedah nampi Pandawa salaku salakina sabab numutkeun jangji saha anu tiasa meunang persaingan anu dilakukeunana bakal janten salakina sanaos anjeunna nyimpang tina kahoyongna, anu saleresna anu dipikahoyong ku satriya. Saatos éta gelut pecah sabab balaréa gumujeng kusabab urang Brahmana henteu kedah ngiringan kana pasanggiri. Pandawa perang teras kabur. Nalika aranjeunna dugi ka bumi, aranjeunna ngawartoskeun ka indungna yén aranjeunna sumping sareng hasil ngemis. Indungna ogé maréntahkeun éta hasilna dibagi sami sareng sadaya duduluranna. Nanging, heranna, anjeunna ningali yén murangkalihna henteu ngan ukur hasil ngemis, tapi ogé awéwé. Dina Pedalangan Jawa Drupadi ngan ukur janten pamajikan Yudistira / Puntadewa. Pikeun nyegah gelut anu sengit, Karajaan Kuru dibagi dua janten dibagi antara Pandawa sareng maréntah Karajaan Kuru utama tengah kalayan ibukota Hastinapura, sedengkeun Pandawa maréntah Karajaan Kurujanggala kalayan ibukota Indraprastha. Boh Hastinapura sareng Indraprastha ngagaduhan istana megah, sareng di dinya Duryudana terjun ka kolam renang anu disangka lantai, janten anjeunna janten sumber ejekan pikeun Drupadi. Ieu ngajantenkeun anjeunna langkung ambek ka Pandawa Pikeun ngarebut kakayaan sareng karajaan Yudhisthira, Duryudana ngajak Yudhisthira maén dadu, ieu didasarkeun tina ideu ti Arya Sengkuni. Nalika pertandingan dadu, Duryudana diwakilan ku Sengkuni salaku dealer dadu anu ngagaduhan kakuatan pikeun curang. Dina mimiti pertandingan taruhan senjata perang, taruhan taruhan terus ningkat kana taruhan khasanah karajaan, teras para prajurit dipertarung, sareng dugi ka puncak pertandingan Karajaan dipertaruhkan, Pandawa kaleungitan sadaya harta sareng karajaan Pandawa kalebet saderek ogé dipertaruhkan sareng pamustunganana pamajikanana Drupadi dipertaruhkan. Ahirna, Yudhisthira éléh sareng Drupadi dipénta pikeun sumping ka arena judi sabab éta milik Duryudana. Duryudana ngutus hansipna pikeun ngukut Drupadi, tapi Drupadi nolak. Saatos gagal, Duryudana maréntahkeun adi na Dursasana, pikeun nyandak Drupadi. Drupadi anu nolak datang, kaséréd ku Dursasana anu teu boga rasa ditarik nepi ka arena judi, tempat salakina jeung mertuana kumpul. Kusabab anjeunna éléh, Yudhisthira sareng sadaya adi-adi na dipénta ngaleupaskeun baju, tapi Drupadi nolak. Dursasana, anu watekna kasar, narik lawon anu diagem ku Drupadi, tapi lawonna teras teu liren sabab anjeunna ngagaduhan kakuatan gaib ti Pangéran Kresna anu ningali Draupadi dina bahaya. Bantosan Sri Kresna disababkeun ku kalakuan Draupadi tina ngabungkus tatu Sri Kresna nalika upacara Rajasuya di Indraprastha. Drupadi anu éra sareng kasinggung ku sikep Dursasana sumpah moal ngagulung rambutna dugi ka dikerem ku getih Dursasana. Bima ogé sumpah pikeun maéhan Dursasana sareng nginum getihna engké. Saatos sumpah, Drestarastra ngaraos musibah bakal tumiba ka turunanana, maka anjeunna ngabalikeun sadaya harta Yudhisthira anu parantos dipasihan. Duryudana, anu kuciwa Drestarastra parantos ngembalikan sadaya harta milik anjeunna, ngayakeun pertandingan dadu pikeun kadua kalina. Kali ieu, saha waé anu éléh kedah mundur ka leuweung salami 12 taun, saatos éta hirup dina sataun samaran, sareng saatos éta ngagaduhan hak pikeun balik deui ka karajaanna deui. Pikeun kadua kalina, Yudhisthira nuturkeun pertandingan sareng sakali deui anjeunna élé eleh ieu, Pandawa dipaksa ninggalkeun karajaanna salami 12 taun sareng hirup dina jaman samaran salami sataun. Saatos jaman pengasingan réngsé sareng saluyu sareng perjanjian anu sah, Pandawa ngagaduhan hak pikeun nyandak deui karajaan anu dipimpin ku Duryudana. Nanging Duryudana jahat. Anjeunna henteu hoyong masrahkeun karajaan ka Pandawa, sanaos dugi ka tungtung jarum. Hal éta ngajantenkeun Pandawa béak kasabaran. Sri Kresna ngalaksanakeun misi anu damai, tapi gagal sababaraha kali. Tungtungna, gelut éta teu bisa dihindari Pandawa nyobian milari sekutu sareng anjeunna kéngingkeun bantosan pasukan ti Karajaan Kekaya, Karajaan Matsya, Karajaan Pandya, Karajaan Chola, Karajaan Kerala, Karajaan Magadha, Karajaan Yadawa, Karajaan Dwaraka, sareng seueur deui. Salain ti éta satria hébat di Bharatawarsha sapertos Drupada, Setyaki, Drestadjumna, Srikandi, sareng anu sanésna nyandak sisi Pandawa. Samentawis éta Duryudana naros ka Bhishma pikeun mingpin pasukan Kurawa sareng nunjuk anjeunna salaku komandan pangluhurna tentara Kurawa. Kurawa dibantuan ku Resi Dorna sareng putrana Aswatama, lanceuk lalaki Kurawa, Jayadrata, ogé Krepa, Kertawarma, Salya, Sudaksina, Burisrawa, Bahlika, Sengkuni, guru Karna sareng seueur deui. Bharatayuda Perangna lumangsung 18 dinten perang éta, seueur ksatria anu maot, sapertos Abhimanyu, Durna, Karna, Bisma, Gatotkaca, Irawan, Prabu Matswapati sareng putra-putrana Raden Seta, Raden Utara, Raden Wratsangka, Bhogadatta, Sengkuni, sareng seueur deui. 18 dinten éta dieusian ku getih sareng pembantaian anu pikasieuneun. Dina akhir dinten ka dalapan belas, ngan sapuluh ksatria anu salamet tina perang, nyaéta Lima Pandawa, Yuyutsu, Setyaki, Aswatama, Krepa sareng Kartamarma. Saatos perang réngsé, Yudistira dinobatkeun janten Raja Hastinapura kalayan gelar King Kalimataya. Saatos maréntah sababaraha lami, anjeunna masrahkeun tahta ka putu Arjuna, Parikesit. Teras, Yudhisthira sareng Pandawa sareng Drupadi naék Himalaya salaku tujuan akhir tina perjalanan aranjeunna. Di dinya aranjeunna maot sareng dugi ka surga. Dicaritakeun dina carita Pandawa Séda Parikesit maréntah Karajaan Kuru kalayan adil sareng bijaksana. Anjeunna nikah ka Madrawati sareng ngagaduhan putra jenenganana Janamejaya. Janamejaya nikah ka Wapushtama Bhamustiman sareng ngagaduhan putra jenengan Setanika. Setanika nyaéta putra Aswamedhadatta. Aswamedhadatta sareng turunanana teras mingpin Karajaan Kuru Wangsa di Hastinapura.